ayuprissa:

Pontianak.25072011.22:56.Priscilla Ahn.
Pemenang Utama Anugerah Pewarta Foto Indonesia Tahun 2011 oleh Maman Sukirman.

Foto diambil pada tanggal 9 Desember 2010 ketika terjadi bentrokan antara mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Makassar dengan aparat kepolisian pada demonstrasi peringatan Hari Anti Korupsi.
 
Daeng Naba yang menjadi objek foto di atas adalah lekaki tua yang sehari-hari berlalu lalang di depan kampus hijau itu. Setiap hari, dia berjalan tanpa kenal lelah mencari nafkah, terkadang memungut sampah plastik untuk kemudian dijual kembali atau mendapat uang pesangon dari mahasiswa yang melihatnya.
Hari itu dia juga berjalan seperti biasa, tanpa merasa terganggu karena memang itu rutenya. Namun naas, hari itu ternyata jalurnya berubah menjadi perang. Karena terlanjur genjatan senjat pecah,  –mahasiswa melempari polisi, polisi membalas dengan gas air mata dan semprotan air– mau tak mau kakek tua ini harus berlindung.
Menurut kesaksian Maman, saat itu, Daeng Naba berjalan biasa saja, seketika mendengar letusan senjata, kakek tua ini sontar kaget. Berjalan diatas lumpur –pelebaran jalan– dia lalu melepas sendal jepitnya, mungkin karena matanya perih, dia lalu merangkak mengendur-endus diatas lumpur mencari perlindungan hingga ia temukan cangkang eskapator.
Berselang beberapa detik saja, kakek tua ini berlindung, perang sesunggunya terjadi. Maman yang saat itu berada disudut tidak luput pula imbas dari kejadian itu. Dia terkena semprotan air dan gas air mata. Kameranya penuh dengan lumpur. Maman pun mengakui sempat terjatuh saat bentrokan itu pecah.
Kakek tua yang sempat ia abadikan dalam beberapa scane, saat kejadian itu tak bisa lagi ia lindungi. Setelah beberapa saat kemudian ia mendapat posisi aman, dia kembali menengok kakek tua itu, tapi ternyata sudah diselamatkan oleh warga agar menepi dari bentokan.
Kakek tua itu terlihat trauma, mungkin dia beranggapan kembali ke perang saat kemerdekaan lagi, padahal beda. Perang yang baru saja ia lalui adalah perang tanpa ujung pangkal. Entah esensinya apa, dan dia harus bertindak seperti apa. Seperti masyarakat kebanyakan yang bingung, harus memihak siapa, polisi yang menengakkan keamanan atau mahasiswa yang berjuang atas nama masyarakat.
Itulah Maman, berkat fotonya, kembali menyadarkan kita bahwa banyak pihak diluar sana yang akan terkena imbas langsung dari keegoisan kita –kita semua yang berjuang atas nama kelompok, baik pemerintah, mahasiswa, partai atau organisasi lain– meraka tidak tahu masalah yang dijadikan peperangan, orang-orang seperti Daeng Naba cuma ingin tahu, hari ini harus makan apa.
(sumber: kompasiana)

ayuprissa:

Pontianak.25072011.22:56.Priscilla Ahn.

Pemenang Utama Anugerah Pewarta Foto Indonesia Tahun 2011 oleh Maman Sukirman.

Foto diambil pada tanggal 9 Desember 2010 ketika terjadi bentrokan antara mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Makassar dengan aparat kepolisian pada demonstrasi peringatan Hari Anti Korupsi.

Daeng Naba yang menjadi objek foto di atas adalah lekaki tua yang sehari-hari berlalu lalang di depan kampus hijau itu. Setiap hari, dia berjalan tanpa kenal lelah mencari nafkah, terkadang memungut sampah plastik untuk kemudian dijual kembali atau mendapat uang pesangon dari mahasiswa yang melihatnya.

Hari itu dia juga berjalan seperti biasa, tanpa merasa terganggu karena memang itu rutenya. Namun naas, hari itu ternyata jalurnya berubah menjadi perang. Karena terlanjur genjatan senjat pecah,  –mahasiswa melempari polisi, polisi membalas dengan gas air mata dan semprotan air– mau tak mau kakek tua ini harus berlindung.

Menurut kesaksian Maman, saat itu, Daeng Naba berjalan biasa saja, seketika mendengar letusan senjata, kakek tua ini sontar kaget. Berjalan diatas lumpur –pelebaran jalan– dia lalu melepas sendal jepitnya, mungkin karena matanya perih, dia lalu merangkak mengendur-endus diatas lumpur mencari perlindungan hingga ia temukan cangkang eskapator.

Berselang beberapa detik saja, kakek tua ini berlindung, perang sesunggunya terjadi. Maman yang saat itu berada disudut tidak luput pula imbas dari kejadian itu. Dia terkena semprotan air dan gas air mata. Kameranya penuh dengan lumpur. Maman pun mengakui sempat terjatuh saat bentrokan itu pecah.

Kakek tua yang sempat ia abadikan dalam beberapa scane, saat kejadian itu tak bisa lagi ia lindungi. Setelah beberapa saat kemudian ia mendapat posisi aman, dia kembali menengok kakek tua itu, tapi ternyata sudah diselamatkan oleh warga agar menepi dari bentokan.

Kakek tua itu terlihat trauma, mungkin dia beranggapan kembali ke perang saat kemerdekaan lagi, padahal beda. Perang yang baru saja ia lalui adalah perang tanpa ujung pangkal. Entah esensinya apa, dan dia harus bertindak seperti apa. Seperti masyarakat kebanyakan yang bingung, harus memihak siapa, polisi yang menengakkan keamanan atau mahasiswa yang berjuang atas nama masyarakat.

Itulah Maman, berkat fotonya, kembali menyadarkan kita bahwa banyak pihak diluar sana yang akan terkena imbas langsung dari keegoisan kita –kita semua yang berjuang atas nama kelompok, baik pemerintah, mahasiswa, partai atau organisasi lain– meraka tidak tahu masalah yang dijadikan peperangan, orang-orang seperti Daeng Naba cuma ingin tahu, hari ini harus makan apa.

(sumber: kompasiana)

"Terkadang, ya, kesabaran adalah kekuatan menahan sesuatu yang berat, yang tidak hanya rasa rindu, rasa ingin, tetapi juga rasa sakit."
"Aku bisa selalu ada di sampingmu. Kamu hanya tidak mengerti bahwa itu bukan berarti karena aku mencintaimu."
"Karena kamu telah menitipkan aku pada doamu, aku tak heran merindukanmu."
"Maybe i’m not on your past. But i’m able to be your present and future."
Rahne Putri (via sadgenic)

Aku Mau Kamu Di Tiapku

zarryhendrik:

Aku mau senyum kamu di tiap esok yang aku punya.

Aku mau tawa kamu di tiap waktu yang kumiliki.

Aku mau mata kamu di tiap hebat yang kulakukan.

Aku mau suara kamu di tiap sunyi yang kuhadapi.

Aku mau tubuh kamu di tiap indah yang kusiapkan.

Aku mau hati kamu di tiap aku tanya hatiku.

"Salah satu hal yang paling mengagumkan di hidupku adalah ketika kau begitu tahu apa yang aku rasa tanpa aku harus bicara."
"Sakit hati itu bukan tentang apa yang dia lakukan pada hatimu tetapi apa yang tidak bisa kamu dapatkan atas apa yang hatimu minta."